Website Resmi UPTD SMPN 1 BAJUIN

Desa Tanjung Blok IIIA Kelurahan Tanjung Kec. Bajuin Kab. Tanah Laut - Kalsel

"Berilmu, Berakhlak Mulia, Berwawasan Lingkungan, dan Terampil Berlandaskan Iman & Tqwa"

JUARA TANPA MAHKOTA

Minggu, 21 Juli 2019 ~ Oleh Admin ~ Dilihat 80 Kali

Judul tulisan ini penulis ambil dari sebuah tulisan artikel pada buku “ Goresan Pena Finalis Guru Berprestasi 2018” , yang diberikan oleh penulis artikel yang judulnya dijadikan tulisan penulis di atas, yaitu Mutia Rahmah, S.Pd. Penulis mendapatkan hadiah buku luar biasa tersebut secara tidak terduga, saat penulis menghadiri undangan syukuran dan selamatan keberangkata ke tanah suci Mekkah, Arab Saudi di rumahnya, Ahad, 21 Juli 2019. Bagi penulis, pemberian buku yang tidak terduga ini merupakan suatu penghargaan dan penghormatan yang luar biasa, sehingga penulis patut bersyukur dan tentunya berteriama kasih kepada pemberinya, Mutia Rahmah, S.Pd tersebut.

Mengutip dari ‘Kata Pengantar” buku “ Goresan Pena Finalis Guru Berprestasi 2018”, bahwa buku tersebut merupakan kumpulan peserta finalis guru berprestasi dari 34 provinsi se Indonesia. Mereka adalah guru yang telah melalui proses seleksi secara berjenjang dengan berbagai tantangan yang melekat dan menyertainya.  34 tulisan dalam buku ini menceritakan perjalanan panjang peserta guru berprestasi sampai pada puncak tertinggi perlombaan yang memperebutkan juara nasional tergambar jelas di dalamnya.

Penulis sesampai di rumah segera membuka dan membaca daftar isi buku tersebut yang memiliki 362 halaman, dan tujuan pertamanya adalah membaca tulisan dari Mutia Rahmah, S.Pd, yang memberikan buku tersebut. Ternyata tulisannya ada di halaman 313 hingga 326 , berada di bagiaan ke-31  dari 34 tulisan dalam buku Goresan Pena Finalis Guru Berprestasi 2018 tersebut. Saat membaca di daftar isi buku tersebut, penulis merasa terkejut dengan tulisan artikelnya yang berjudul “ Juara Tanpa Mahkota”. Penasaran dengan judul yang cukup ‘aneh’ tersebut, penulis segera mencari halaman dan membaca isinya secara tuntas.

Sebelumnya, penulis sudah mendapatkan cerita sekilas dari penulisnya tentang bagaimana perjuangannya dan nasibnya sebagai guru berprestasi di tingkat daerah pada tahun 2018 yang lalu. Ketika membaca tulisan artikelnya, penulis dapat merasakan dan memahami isi tulisannya tersebut yang dihubungkan dengan kondisi yang dialaminya sebagai guru berprestasi di tingkat daerah saat itu.

Penulis mengutip sedikit tulisanya yang berberkaitan dengan kondisi yang dialami saat berada di hotel tempat menginap peserta finalis guru berprestasi tingkat nasional tahun 2018 yang lalu. “ Ada yang tergenang di pelupuk mataku (setiap gurpres yang kulihat lalu lalang di depan kami mereka berpakaian sama dan mereka sebagian bersama para pendamping provinsi)...apalagi saat mendengar oborolan ringan perjalanan mereka hingga sampai di hotel ini. Lara bergelayut di hatiku...Kami berjuang sendiri “.

Lalu, penulis mencoba memahami isi tulisan tersebut dengan kabar dan cerita yang sebelumnya penulis dapatkan berkaitan dengan perjuangannya dan nasib Ibu Mutia Rahmah, S.Pd  dalam mengikuti seleksi sebagai guru berprestasi di tingkat daerah pada tahun 2018 yang lalu. Kondisinya saat itu kurang sebaik dari tahun-tahun sebelumnya, baik pada jenjang kabupaten maupun provinsi. Penulis yang sebelumnya juga pernah mengikuti seleksi demikian bersama Mutia Rahmah, S.Pd pada tahun 2010. Saat itu pelaksanaan seleksi guru dan tenaga kependidikan lainnya relatif lebih baik, khusunya saat pada jenjang provinsi.

Penulis dapat memahami judul tulisan artikelnya “ Juara Tanpa Mahkota”  dari cerita dan tulisan dari Mutia Rahmah, S.Pd tersebut. Disamping itu, penulis juga mendengar langsung dari Ahamdiyanto, S.Pd, juara I Nasional guru berpretasi tahun 2017, terkait dengan pelaksanaan seleksi di tingkat provinsi pada tahun 2018 lalu. Hal ini sinkron dengan cerita lisan dan tulisan yang digambarkan oleh Mutia Rahmah, S.Pd sebagaimana tulisannya dengan judul tersebut.

Menjadi  “ Juara Tanpa Mahkota” merupakan ungkapan simbolik dari  dalam dari seorang guru yang telah berjuang membela nama baik dan citra  daerahnya, namun semangat dan perjuangannya tersebut belum mendapatkan apresiasi yang selayaknya  seperti juara-juara bidang lain yang membawa nama daerah. Akankah sebutan  “ Guru Tanpa Tanda Jasa” akan terus melekat dan mitos dalam perjuangan guru? Wallahu’alam.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT

Statistik Pengunjung