Website Resmi UPTD SMPN 1 BAJUIN

Desa Tanjung Blok IIIA Kelurahan Tanjung Kec. Bajuin Kab. Tanah Laut - Kalsel

"Berilmu, Berakhlak Mulia, Berwawasan Lingkungan, dan Terampil Berlandaskan Iman & Tqwa"

ADA APA DIBALIK FENOMENA KURANGNYA SISWA BARU?

Sabtu, 20 Juli 2019 ~ Oleh Admin ~ Dilihat 31 Kali

Menjelang, saat, dan sesudah tahun pelajaran baru 2019/2020 diwarnai dengan kegelisahan banyak sekolah di Kalimantan Selatan, khususnya di Kota Banjarmasin, karena adanya kecendrungan berkurangnya peserta didik atau siswa baru.  Beberapa kali koran Banjarmasin Post mengangkat topik pemberitaannya yang berhubungan kondisi dan fenomena sekolah kekurangan siswa baru pada tahun pelajaran 2019/2020 ini. Berita terbaru koran tersebut tentang sekolah kekurangan siswa baru dimuat pada Sabtu, 20 Juli 2019, pada halaman 14, dengan judul “ Hanya Satu Siswa Kembalikan Formulir”, dan subjudul “ SMPN 7 Barabai Minim Pendaftar”.

Berita koran Banjarmasin Post terkait fenomena sekolah kekurangan siswa baru diberitakan antara lain dimuat  pada Jumat, 21 Juni 2019, pada halaman pertama dengan judul “ Ada SDN di Banjarmasin Nol Siswa”. Dalam beritanya, penerimaan peserta didik baru (PPDB)  zonasi jenjang sekolah dasar negeri (SDN)  pada 2-3 Mei 2019 silam membuat keresahan bagi sekolah sejumlah. Dari rekap terakhir Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin, ternyata ada 10 SDN dari 206 sekolah yang sama sekali belum mendapatkan siswa atau nol pendaftar hingga kemarin.

Kondisi dan fenomena sekolah kekurangan siswa ini sebenarnya sudah terjadi pada tahun pelajaran 2018/2019, sebagaimana pernah juga diberitakan oleh Banjarmasin Post Selasa, tanggal 17 Juli 2018, pada halaman  10, dengan judul “ SMPN 28 Kurang 220 Siswa” , bahwa menurut data yang diperoleh Bpost dari Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin, ada satu sekolah negeri yang kekurangan siswa sebanyak 220 siswa,  yaitu SMPN 28 Banjarmasin. Menurut data, sekolah ini mempunyai daya tampung sebanyak 259 siswa, namun sampai hari pertama masuk sekolah, tanggal 16 Juli 2018, peserta didiknya hanya 39 siswa, sehingga kekurangan sebanyak 220 siswa.

Sementara itu, dalam paparan tabel data yang dimuat koran Banjarmasin Post, Selasa, tanggal 17 Juli 2018 yang lalu, dipaparkan nama sekolah dan jumlah kekurangan siswanya, yaitu:  (1) SMPN 13 Banjarmasin, kekurangan 41 siswa dari kouta 230 siswa ; (2) SMPN 16 Banjarmasin, kekurangan 38 siswa dari kouta 144 siswa; (3) SMPN 17 Banjarmasin, kekurangan 43 siswa kouta 259 siswa; (4) SMPN 18 Banjarmasin, kekurangan 65 siswa dari kouta 173; (5) SMPN 22 Banjarmasin, kekurangan 71 siswa dari  kouta 144 siswa; (6) SMPN 28 Banjarmasin, kekurangan 220 siswa dari kouta 259 siswa; (7) SMPN 29 Banjarmasin, kekurangan 32 siswa dari kouta 86 siswa; (8) SMPN 32 Banjarmasin, kekurangan 84 siswa dari kouta 115 siswa; dan SMPN 34 Banjarmasin, kekurangan 60 siswa dari kouta 202 siswa

Dari jejak pemberitaan koran di atas, ternyata fenomena sekolah  kekurangan siswa sudah mulai nampak terjadi sejak setahun yang lalu. Kekurangan siswa akan berdampak kelanjutannya dari jenjang sekolah bawah hingga ke atas, yaitu ketika pada jenjang SD siswanya sudah berkurang, maka besar kemungkinannya pada jenjang SMP dan SMA juga berkurang. Jika fenomena kekurangan siswa ini terus berlanjut setiap tahunnya, maka besar kemungkinan sekolah tersebut tidak memiliki siswa, dan akhirnya dapat ditutup atau digrouping dengan sekolah sejenjang yang terdekat.

Dunia pendidikan Indonesia menjelang tahun pelajaran 2019/2020 sedang mengalami permasalahan yang berkaitan dengan PPDB. Pada satu sisi, ada daerah  atau sekolah yang mengalami masalah kekurangan  calon siswa atau peserta didik seperti yang terjadi di Kota Banjarmasin dan daerah lainnya di Kalimantan Selatan, baik jenjang SD, SMP, maupun SMA/SMK, sebagaimana diberitakan oleh koran di atas. Sementara di sisi lain, pada sekolah-sekolah di Pulau Jawa mengalami masalah yang sebaliknya. Orangtua calon peserta didik baru berdesak-desakan untuk memamsuki sekolah yang diinginkan, hingga sampai ada yang mengantri sejak dini har, hanya untuk mendapat nomor antrian mendapatkan formulir pendaftaran.

Fenomena sekolah kekurangan siswa baru mengindikasikan adanya kondisi yang memprihatinkan atas kelangsungan sebuah sekolah, karena kalau terus menerus sekolah kekurangan siswa dapat berakibat sekolah tersebut ditutup atau digrouping dengan sekolah lain. Sebagaimana pernah diberitakan oleh koran ini pada tahun pelajaran lalu yang  juga terjadi di Kabupaten Batola. Menurut berita  koran Banjarmasin Post yang sama pada Rabu, 12 September 2018 yang lalu, sebagaimana dimuat pada  halaman 11, dengan judul berita “ Disdik Bingung Murid Terus Berkurang” ,dan subjudul “ 61 Sekolah Bakal Dievaluasi”. 

Kekurangan siswa pada beberapa sekolah yang terjadi dalam PPDB tahun pelajaran 2018/2019 dan 2019/2020 tersebut, tentu belum dapat dipastikan ada hubungannya dengan mekanisme PPDB sistem zonasi yang dilaksanakan oleh sekolah atau daerah. Perlu ada kajian yang lebih mendalam terhadap fenomena kekurangan siswa dari beberapa sekolah yang melaksanakan PPPDB sistem zonasi.  Masih banyak faktor yang dapat mempengarahi masalah atau fenomena sekolah yang kekurangan siswa pada tahun pelajaran dalam dua tahun terkahir di Kalimantan Selatan. Tidak perlu mencari ‘kambing hitam’ atas permasalahan tersebut, karena hanya akan menambah masalah dalam dunia pendidikan kita.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT

Statistik Pengunjung