Website Resmi UPTD SMPN 1 BAJUIN

Desa Tanjung Blok IIIA Kelurahan Tanjung Kec. Bajuin Kab. Tanah Laut - Kalsel

"Berilmu, Berakhlak Mulia, Berwawasan Lingkungan, dan Terampil Berlandaskan Iman & Tqwa"

KEMBALI, tentang NASIB GURU HONORER

Selasa, 09 April 2019 ~ Oleh Admin ~ Dilihat 11 Kali

Kembali,  koran Banjarmasin Post, Selasa, 9 April 2019, mengangkat permasalahan yang dialami oleh guru honorer di Kabupaten Banjar, dengan judul berita “ SK Ribuan Guru Honorer Bermasalah “, dan subjudul “ Lapor Dewan karena Terganjal Dapatkan Tunjangan Sertifikasi”. Menurut beritanya, perwakilan guru yang tegabung dalam Forum Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Honorer Sekolah Negeri (FPTKISN) Kabupaten Banjar mendatangi DPRD Banjar, Senin (8/4). Tiba di gedunga  DPRD Banjar, di kawasan Jalan A.Yani, Martapura, mereka langsung menuju ruang Komisi IV. Ini karena agenda dengar pendapat (RDP) dengan pengurus FPTKISN tersebut telah diagendakan oleh wakil rakyat setempat.

Menurut ‘Story Highlights’ koran Banjarmasin Post tersebut disebutkan  bahwa (1) Para guru honorer mengadu ke dewan karena ketidaktepatan redaksional kalimat SK mereka ,(2) Di SK mereka tertulis ‘penetapan’ bukan ‘pengangkatan’, (3) Akibatnya, mereka tak bisa dapatkan sertifikat PGG dari LPMP, (4) Padahal sertifikat PGG merupakan syarat pengajuan tunjangan sertifikasi.

Begitulah perjuangan para guru honorer di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan,  dalam upaya mengangkat memperbaiki nasib guna meningkatkan harkat dan martabat mereka dengan mendapatkan tunjangan sertifikasi sebagaimana mestinya. Dengan mendapatkan tunjangan sertifikasi, para guru honorer berharap dapat membantu upaya membiaya kehidupan keluarga dan perekonomian keluarga. Namun sayang, upaya untuk mendapat tunjangan sertifikasi tersebut, masih terhalang dengan adanya kesalahan’redaksional’ SK yang mereke miliki, sehingga menjadi penghalang mendapatkan tunjangan sertifikasi yang sangat diharapkan.

Berita koran di atas, kembali menunjukkan akan nasib guru honorer yang belum mendapatkan hak  mereka secara mudah dan layak sebagaimana mestinya. Perjuangan mereka menata nasib dan masa depan seperti banyak mendapatkan halangan dan permasalahan, seperti yang dialami oleh guru honorer di Kabupaten Banjar tersebut. Sampai kapankah nasib dan kehidupan guru honorer yang selama ini mengabdikan dirinya untuk membantu mencerdaskan kehidupan bangsa akan lebih baik dari sekarang ini?

Sungguh ironis dan miris ketika mendengar dan melihat sendiri bagaimana dedikasi dan perjuangan guru honorer yang digaji seadanya mendidik dan mengajarkan kepada anak bangsa ini, termasuk.    Kita tidak ingin para guru honorer yang selama ini berpuluh-puluh tahun mengabdikan dirinya dalam ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa dengan gaji yang tidak seberapa  tidak mendapat perhatian dan penghargaan yang semestinya dari pihak terkait yang memegang kebijakan.

Tanpa  mengurangi penghargaan dan rasa hormat kepada Pemerintah yang sejauh telah banyak memberikan penghargaan dan kemudahan kepada guru,  maka sudah sepatutnya Pemerintah memikirkan jalan terbaik untuk guru honorer, supaya pengabdian dan dedikasi mereka selama ini mengajar dengan gaji seadanya dapat terus mengabdikan dirinya sebagai guru dengan imbalan yang setimpal dan layak bagi kehidupannya.

Upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa secara paripurna,  tidak terlepas dari peran strategis guru, termasuk guru honorer. Peran guru,  apapun status kepegawaiannya hendaknya tidak menjadi persoalan yang menghambat nait baik Pemerintah untuk membangun guru Indonesia yang sejahtera dan bermartabat sebagaimana amanah Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005   tentang Guru dan Dosen. Semoga nasib guru honorer di seluruh Indonesia akan lebih baik dan sejahtera, sehingga akan lebih tenang dalam menunaikan tugas mereka sebagai guru. Semoga.

 

###1444###

 

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT

Statistik Pengunjung