Website Resmi UPTD SMPN 1 BAJUIN

Desa Tanjung Blok IIIA Kelurahan Tanjung Kec. Bajuin Kab. Tanah Laut - Kalsel

"Berilmu, Berakhlak Mulia, Berwawasan Lingkungan, dan Terampil Berlandaskan Iman & Tqwa"

ANAK ZAMAN MILANIAL, PERMAINAN ERA DIGITAL .

Minggu, 07 April 2019 ~ Oleh Admin ~ Dilihat 13 Kali

Kehidupan anak atau siswa dalam era milanial sekarang ini tidak dapat lepas dari yang namanya dunia ‘layar kaca’. Setelah era layar televisi,  kini diera digital menjadi penggemar berat dengan dunia layar kaca yang namanya smartphone, tablet, dan berbagai layar media elektronik lainnya. Kenyataan menunjukkan, bahwa anak sejak balita sudah mengenal, menggunakan,  dan menggemari dunia ‘layar kaca’ dari smartphone, tablet, berbagai layar media elektronik lainnya.  Permainan anak di zaman digital ini tidak jauh dari play stastion, game online, jejaring sosial, youtube, istagram, dan berbagai permainan yang berbasis IT lainnya.

Anak lebih asyik dan ‘mabuk’ dengan permainan yang berbasis IT, seperti video game, game online, dan sebagainya. Sudah sangat jarang ada anak yang bermain petak umpet, kelereng, laying-layang, atau berbagai permainan tradisonal yang berbasis kehidupan sosial, berlatar belakang dan berinteraksi dengan alam dan lingkungan di sekitar. Kini, anak asyik sendirian di dalam kamar atau ruang tertutup dengan ditemani oleh  smartphone, tablet, dan layar media elektronik lainnya.

Mereka berinteraksi dengan ‘mesin’ yang merupakan benda mati, sehingga akhirnya membuat kesulitan ketika bersosialisasi dengan orang di sekitarnya. Kalau kondisi tersebut dibiarkan begitu saja, tanpa ada komunikasi dan interaksi dengan teman sebaya,  keluarga, masyarakat, dan alam sekitarnya, maka dikhawatirkan dapat membantuk jiwa dan kepribadian yang tertutup, individualis, egois, tidak peduli lingkungan, dan anti sosial.

Lalu, bagaiman peran orangtua menjaga anaknya dari dampak negatif dunia layar, dan bagaimana memanfaatkan dunia layar bagi kebaikan hidup mereka? Tentu kondisi ini perlu disikapi dengan arif dan bijaksan oleh orangtua. Memang, ada orangtau yang bersikap ekstrim terhadap teknologi komunikasi, sehingga dalam keluarganya tidak ada televisi.  Bukan tidak mampu membeli, tetapi orangtua tidak mau anaknya menjadi asyik dengan dunia layar kaca tersebut.

Perlu dipahami,  bahwa tugas orangtua menjaga anak mereka dari dampak negatif  dunia layar kaca,  namun bukan berarti menutup rapat-rapat anak mereka dari dunia layar kaca sama sekali. Orangtua hanya berusaha membatasi waktu anak-anak dalam menonton televisi, main game, menggunakan internet, dan sebagainya. Seimbangkan waktu anak dengan berinteraksi dan bergual dengan teman sebaya, keluarga, masyarakat, dan bahkan alam sekitarnya.

Buatlah kesepakatan dengan anak mengenai durasi dan aturan menggunakan digital. Buatlah jadwal penggunaan digital. Kemudian berhentilah bermain digital saat makan bersama, jangan makan di depan televisi atau  layar kaca apa pun, jadikan obrolan anda di seputar meja makan sebagai layar. Berikan keragaman pada anak dari digital ke buku, bacakan cerita, berjalan jalan ke perpustakaan atau toko buku, banyak beli kaset film rohani, lagu anak yang mendidik, dan sebagainya. Hindari penggunaan digital di depan anak,  karena anak akan mudah meniru.

Orangtua harus mengerti dunia digital,  agar dapat mendampingi, mengawasi, mengontrol dunia digital anak-anaknya. Jangan malas untuk belajar hal baru. Buat kesepakatan untuk anak-anak dapat share semua password dan semua kegiatan digital harus terkontrol orang tua. Kemudian, keluarga hendaknya punya ruang digital, di ruang terbuka, bukan di kamar tertutup.

Sekarang ini metode life jarang anak-anak alami lagi, mereka bertumbuh menjadi anak-anak yang kurang bisa menghargai sebuah kesempatan karena waktu terus berlalu dan kesempatan belum tentu terulang. Kehidupan yang anak yang bersentuhan langsung dengan alam akan lebih memberikan makna yang mendalam tentang kehidupan bersama, kebersamaan dalam tim, perjuangan hidup untuk menang, dan nalai kebersamaan lainnya.

Dunia digital menawarkan berbagai hiburan dan kemudahan buat anak, hal inilah yang bisa membuat mereka acuh tak acuh terhadap lingkungan sekitarnya, bahkan pada orang tua dan keluarganya. Mereka diam di tempat dan tidak bergerak/berinteraksi dengan alam. Kemungkinnnya  adalah anak-anak akan bertumbuh menjadi anak yang semakin jauh dari mengenal alam di dunia nyata. Baik dunia flora maupun dunia fauna.

Mereka tidak mampu menghargai alam,  karena jarang bersentuhan dengan alam. Mereka duduk atau tiduran berjam-jam di depan layar kaca, terkadang disertai dengan  makan makanan snack yang kurang sehat. Dimungkinkan mereka menjadi anak-anak yang tubuhnya kurang sehat,  karena kurang bergerak. Tubuhnya memang gemuk atau bahkan obesitas, tetapi kondisi kesehatannya kurang baik, karena tidak bergerak dan olahraga.

Orangtua perlu melatih anak-anak untuk memanfaatkan digital secara positif, yang  sesuai umur mereka saat mereka sudah diperbolehkan memiliki jejaring sosial, seperti membuat status / kalimat mutiara yang memberkati orang banyak, membuat website/blog yang positif, membaca ilmu pengetahuan, mengembangkan hobby yang positif, misal fotography, editing video, video kreatif, editing foto, humor membangun, dan sebagainya,  mengembangkan jaringan yang sangat positif,  cari teman yang sehat dan dapat saling membangun dan tetap berhati-hati terhadap orang yang tidak dikenal.

Dengan demikian, orangtua dapat mengikuti perkembangan zaman,  dan tidak serta merta melarang anak dan menutup kesempatan meraka untuk menyiapkan hidupnya di era digital yang sangat jauh berbeda dengan zaman orangtuanya. Bagi orangtua dan guru,  dalam menyikapi tantangan pendidikan diera digital,  harus memastikan bahwa anak aman menggunakan layar kaca , dukung anak secara positif dan kreatif melalui internet, dukung anak atau siswa untuk mengakses laman atau situs pembelajaran, awasi anak atau siswa dari melakukan kejahatan melalui internet, dan bentuk group media sosial bersama orangtua dan guru untuk mengawasi kegiatan belajar siswa.

Pada hakikatnya orangtua dan sekolah,  harus membangun komunikasi yang intensif untuk saling menjaga dan mengawasi kegiatan anak dan siswa dalam penggunaan televisi, smartphone, tablet, laptop atau  komputer, game,  internet ,dan media elektronik lainnya yang berbasis IT,  agar tidak terjadi penyalahgunaan alat tersebut untuk kepentingan yang tidak diinginkan

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT

Statistik Pengunjung